Hot n Cold Update

Selasa, 10 Januari 2012

| | |
Aku dan para penari Sri Panganti

Budaya Kita Hilang, Javanese Culture Luntur, Globalisasi Makin Padat

Ola alo, perkenalkan nama saya Aldeka Kamilia, no absen 05, penunggu kelas 9.1 dan duduk di bangku paling depan pojok kiri. (Siapa juga yang tanya ...)
Oke, aku bakal ngasih informasi terupdate yang bakal menghangatkan atau mendinginkan kepalamu sehabis seharian mikir pelajaran, haha... (Awalan serius, jangan banyak cengengesan dulu)

PEMIRSA (dibaca ala host Insert), kabar baru kali ini jatuh di daerah Pekalongan. Apakah yang terjadi pada kota batik tersebut? Apakah kalian penasaran? Simak hot news and cold update edisi minggu ke-1 menjelang 2 ... Disiarkan langsung dari gedung SMPN 01 Sragi.

Part I
Berbicara masalah budaya jawa mah kagak ada yang bicara (loh?)
Iya, coba aku mau nanya sama para penghuni Pekalongan, apa semua orang Pekalongan bisa membatik??? Hayooo, aku juga gak bisa,,, hihi

Tapi kalau disuruh jujur, aku selalu berkata "Ingin bisa membatik!" Kenapa? Pekalongan kan sekarang dijuluki kota batik, kalau generasi penerusnya gak bisa membatik, punah deh budaya kita.

Selain batik, pernahkan kalian memainkan gamelan, nari tradisional, nonton wayang kulit dan nyanyi lagu daerah? Aku yakin setengah-setengah ...
Mungkin anak jaman sekarang yang selalu ingin dipanggil anak modern pasti lebih memilih memainkan alat musik modern ketimbang gamelan, lebih memilih nge-dance daripada nari tradisional yang luwes n kalem, selalu nyanyi lagu pop yang dibawakan band-band daripada lagu macapat. Huahaha,,,

Part II
Alhamdulillah ya, aku bisa dibilang gak kuno-kuno amat, bekal dan teknik bermain degung alias gamelan masih melekat erat di hati 4 tahun silam, bisa main piano dan gitar, nari Tari Bondan bisa dan nge-dance ala girlband Korea juga bisa, nyanyi lagu Indonesia bisa, barat bisa, Jepang malah lebih ahli, haha, lagu Jawa juga bisa. Jadi seimbang antara budaya dan modern. Tapi kalau anak jaman sekarang mah lebih mentingin modernnya daripada budaya.

Hebat loh, anak desa yang dulu aku pikir ahli menari tradisional, main gamelan dan budaya yang erat sekali dengan kehidupan mereka, justru sekarang jungkir balik. Sok gaya lah, gak mau dibilang NDESO, padahal kenyataan wong ndeso, selalu berpenampilan layaknya artis, toh kita juga jabatannya masih jadi orang awam, kenapa harus merasa seperti artis?

Plisss deh, jadilah dirimu sendiri, apa adanya, gak usah meniru papan atas, papan bawah aja, hehe ... Dan noraknya lagi, gara-gara globalisasi, budaya asli negara kita malah LUNTUR!!! Bukannya dengan adanya kemajuan tersebut kita seharusnya bisa menunjukkan dunia luas bahwa inilah Indonesia?

HOT NEWS (Iklan sebentar)
Kalau ada yang penasaran dengan budaya jawa lebih lanjut, silakan pencet atau sentuh disini atau disitu atau mau coba yang disana??? Dicoba atuh, hehe ... salah satu boleh, salah semua juga boleh ...




Part III
Siapa yang salah? Aku, kamu, sekolah, ortu, negara, pemerintah atau teknologi???
Sebenarnya gak ada yang salah, semua benar. Perlu digarisbawahi, distabilo atau ditip-ex juga bisa, hehe ... Bahwa teknologi itu suatu keajaiban bagiku sendiri, adanya teknologi untungnya luar biasa besar, tergantung saja pada kita.

Kalau sekolah, aku harap ada sebuah mata pelajaran khusus membahas kesenian, budaya dan tradisi negara kita. Meskipun sekarang sudah ada pelajaran Seni Budaya, aku merasa belum puas, belum diajari membatik, menabuh gamelan, bahkan gak pernah diajari nari tradisional. Khusus tari tradisional memang ada ekstrakulikuler, tapi seharusnya tiga hal tersebut bisa dijadikan pelajaran pokok yang rileks. Jadi sambil belajar, kita juga bisa beria-ria, gak harus sepaneng dan fokus pada hitungan matematika atau hafalan IPS ...

Percuma aja pada berpesta menyambut 2012 dan memohon agar tahun ini menjadi lebih baik, kalau kita sendiri gak mau merubahnya. Dua pilihan, semakin modern atau justru semakin tertinggal, itulah kira-kira gambaran negara Indonesia beberapa tahun ke depan. Tentunya, kita memilih modern dengan budaya yang hidup berdampingan selalu bersama kita.

Part IV
Tengok atuh negara impianku, itu loh negeri sakura. Doi selain dijuluki negara teknologi no 1, budaya Jepang juga masih erat loh, mulai dari pakaian tradisionalnya kimono dan yukata, alat musik tradisional yang kini masih ngetrend koto, bahasa dan juga aksara yang masih digunakan ada kanji, hiragana, dan katakana, sopan santun terhadap orang yang lebih tua, lingkungan yang bersih, dan kepedulian orang Jepang terhadap sekitarnya.

Yah, aku cuma membandingi doang kok. Memang aku selalu berpikir Indonesia bisa jauh lebih perfect, tapi bisa gak ya??? JANGAN BILANG MUSTAHIL!!!
Asal kita mau merubah, mungkin saja tahun 2022 sudah semaju Jepang, haha ...

Korupsi tendang, narkoba hancurkan, pergaulan aman, pintar oke, santun selalu, patuh dimanapun, berubah kapanpun, kreativitas ada, sayang lingkungan, kemajuan perfect, teknologi tertinggi, tunjukkan INDONESIA siap bergelar negara maju, jangan malu-maluin dong. Pelajaran IPS, negara kita termasuk negara berkembang dengan penduduk terbanyak diurutan ke-4 (kalau gak salah)

Oke deh, cukup dulu nih update+ngeblognya, hehe ... Kalau bisa, judul diatas nanti bisa berubah jadi, Budaya Kita Selalu Ada, Javanese Culture Lengket, Globalisasi Oke Oke Aja.


 


By : Aldeka Kamilia (Sakurai Himeko) 9.1

0 komentar:

Poskan Komentar